Rector Notes

Pagelaran Budaya OMMF ke -2

Rector Notes No. 189

Suatu hari saya membaca kisah yang ditulis oleh Pak Ihin bahwa kawasan Olat Maras menyimpan sejuta misteri sejarah budaya. Konon di masa lalu, ada sebuah peradaban di kawasan ini. Ada bukti bukti peninggalannya. Saya percaya bahwa sejarah adalah perulangan waktu. Dibawah tangan Dr. Zulkieflimansyah di kawasan yang dicanangkan menjadi City of Innovation telah berdiri 4 institusi pendidikan, perumahan, taman holtikultura, science technopark, sentra industri kecil dan menengah, dan industri peternakan.


Kita sangat concern dengan budaya. Karena budaya adalah identitas kita. Budaya perlu dilestarikan dan dikembangkan. Perubahan dunia yang begitu cepat memerlukan adaptasi tersendiri. Oleh karena itu, pelestarian dan pengembangan budaya juga perlu inovasi, jika tidak ingin ketinggalan zaman.

Inilah yang mendasari UTS membentuk sebuah Dewan Kebudayaan. Tadi malam, Dewan Kebudayaan Kampus dengan apik menampilkan pagelaran budaya dalam biduk Olat Maras Moving Festival (OMMF) ke 2. Sang Maestro Budayawan NTB, ayahanda Mustakim Biawan turut hadir memberikan orasi budaya.Group Qasidah para Santri Alkahfi dan panti asuhan, band senior Seroja, bang Fajar Rahmat, bang Ihin memberikan persembahan terbaiknya sebagai hadiah bagi Kang Rijal dan Mba Nida, kedua mempelai yang pada pagi-siang harinya melangsungkan resepsi pernikahan. Acara tambah semarak dengan kehadiran mahasiswa UTS asal Iran, Syafi yang khusus menampilkan gendang Persia dan berkolaborasi dengan tim Cinde Bulaeng.

Adalah tugas kita semua dalam menjaga, melestarikan, dan mengembangkan adat budaya Tau Tana Samawa yang berpedoman pada Adat barenti lako syara, syara barenti ko kitabullah.

Terima kasih DK UTS, ayahanda Aries Zulkarnain, bang Ais Syahmi, Pak Aka Kurnia, Pak Haji Aho, Pak Wahyudin Latief, Pak Arif Sakeco, dan seluruh tim yang perform tadi malam.

Untuk kedua mempelai, baarakallahu lakumaa wa baraka alaikumaa wa jamaa baina kumaa fii khair.

#utsmembumidanmendunia
#kampusmerdekauts