Rector Notes

Mimpi yang terus berubah

Rector Notes No. 301

Waktu kecil, saya ingin sekali menjadi seorang insinyur. Awal tahun 90an saat itu Prof. BJ Habibie yang menjadi Menristek jadi idola saya. Maka dari itu saya berusaha untuk kuliah di jurusan keteknikan. Tahun 2006, mimpi ini tercapai sudah.

Lalu selepas lulus S1 bermimpi kembali, bagaimana meraih gelar doktor. Berbagai upaya dilakukan dan dipersiapkan, meski selepas lulus S1, IPK tidak sampai 3.0. Mimpi itu tercapai sepuluh tahun kemudian, 2016.

Sewaktu menyelesaikan program doktor, saya memimpikan membuat sebuah research group. Terinspirasi oleh para professor di Korea. Dan mimpi itu juga telah terealisasi. Lebih dari 65 orang telah lulus dari kelompok peneliti ini baik S1/S2/S3. Alumninya telah tersebar dimana mana.

Sampai angin membawa saya ke timur Indonesia, mimpi saya berubah kembali. Bagaimana sebanyak mungkin anak anak bangsa mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas namun dengan biaya yang terjangkau.

Kuliah itu masih menjadi barang yang sulit diakses oleh anak bangsa. Di Malaysia, jumlah masyarakat yang menempuh pendidikan tinggi berkisar 47%, Singapura 78%, sementara Indonesia baru berkisar 35% (Prof. M. Nasir).

Kalau dulu ada program wajib belajar 12 tahun, harusnya sekarang ada wajib belajar hingga perguruan tinggi. Karena dengan pendidikan yang tinggi, bangsa ini akan maju.

Bersama tim yang hebat, kami berusaha mencari cara merealisasikan mimpi itu melalui berbagai kerjasama dan kolaborasi. Alhamdulillah, tahun ini kurang lebih 1000 orang putra putri terbaik dari berbagai daerah di Indonesia bergabung bersama Kampus Elang Muda.

Semoga Allah SWT senantiasa meridhai dan memberikan kemudahan jalan ini. Where there is a will, there is a way!

#utsmembumidanmendunia