News

Tim Cold Storage NgebUTS Juarai Kompetisi Energy Access (Re)Charge

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Berdasarkan paparan Badan Energi Terbarukan Internasional (International Renewable Energy Agency/IRENA), transformasi energi dari fosil menuju EBT akan merangsang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) hingga 2,4 persen. Kemudian, fokus investasi yang mengarah kepada pemanfaatan energi terbarukan diyakini berdampak pada munculnya 42 juta lapangan pekerjaan baru secara global.

Banyak pihak akhirnya mengambil peran dalam upaya meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan tersebut. Salah satunya, Energy Access (Re)Charge yang telah mengadakan kompetisi pada bulan ini bertemakan “Menjadi pelopor energi terbarukan edisi kemudahan akses air bersih”.

Dimana Tim NgebUTS berhasil menyabet Juara 1 pada kompetisi ini. Kompetisi tersebut diikuti oleh puluhan start up juga lembaga pemerhati energi baru terbarukan seluruh Indonesia. Total 26 tim ikut pada kompetisi periode kedua ini, setelah bulan maret 2021. Tim NgebUTS berhasil lolos menjadi finalis 6 besar bersama  dengan Tim Albatros (Universitas Indonesia), Freshwater, Gotta.id, Orlait, SAM Energy, yang merupakan tim-tim ahli yang telah sering mengikuti kompetisi semacam ini sebelumnya.

Melalui proses presentasi ide dan tanya jawab  secara virtual, Tim cold storage NgebUTS berhasil keluar sebagai pemenang dengan ide solar powered – cold storage. Sesuai dengan namanya, inovasi ini berupa piranti pendingin yang listriknya dipasok oleh tenaga matahari dan didukung oleh baterai. Selain itu, dengan menggunakan bi-directional inverter memungkinkan sistem dapat dicatu oleh listrik PLN atau sumber listrik lainnya. Adapun pembuatan cold storagenya melibatkan Industri Kecil Menengah (IKM) lokal di Sumbawa.

 

Tim cold storage NgebUTS yang diketuai oleh Nova Aryanto, dosen Teknik Elektro dan beranggotakan Hadi Rudiya dan Ahmad Jaya menjelaskan, salah satu alasan utama kemenangan Tim NgebUTS adalah karena ide inovasi ini telah diimplementasikan di Pulau Bungin, Sumbawa. Saat pandemi seperti saat ini, para nelayan menghadapi masalah dalam menjual hasil tangkapan ikan mereka, sehingga dengan adanya bantuan cold storage ini para nelayan bisa menyimpan hasil melautnya dengan aman. Ditambah lagi, biaya listrik yang dikeluarkan oleh nelayan juga lebih sedikit karena dibantu oleh tenaga matahari.

Inilah yang membuat para juri yang terdiri dari Shana Fatina selaku Founder dari Komodo Water, Frank Stegmuller selaku Team Leader GIZ (NGO terkait EBT, Jerman), dan Yeni Tjiunardi selaku Invesment Director New Energy Nexus Indonesia memutuskan Tim cold storage NgebUTS keluar sebagai Juara 1 pada batch 2 tersebut.

“Ini menjadi salah satu moment yang membanggakan bagi kami, karena dapat berkompetisi dengan tim-tim hebat yang sudah biasa mengikuti kompetisi serupa di tingkat nasional-internasional. Kami bersyukur mampu menjadi Juara 1 yang membuktikan meski kita berada di Kaki Bukit Olat Maras yang terpencil tapi mampu bersaing dengan teman-teman yang berasal dari universitas ternama lainnya di Indonesia. Dari UTS dan Olat Maras kita mampu menciptakan inovasi yang berdaya guna bagi masyarakat yg dihargai di kancah nasional maupun internasional,” tutur Nova.

Rektor UTS Chairul Hudaya, Ph.D memberikan ucapan selamat kepada Nova dan Tim atas kemenangan pada kompetisi EBT tersebut, “turut bangga pada teman-teman Tim NgebUTS yang telah berhasil menaklukan tantangan kali ini dan memberikan hasil yang terbaik. UTS memang concern untuk memberikan inovasi dan teknologi tepat guna untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Salah satunya yakni pemanfaatan EBT untuk pasokan energi listrik yang ramah lingkungan. Semoga kedepan semakin banyak ide/inovasi yang bisa diserap oleh masyarakat, demi menjaga bumi dan lingkungan hidup kita”.

Selain mendapat hadiah sebesar Rp 3 juta, Tim cold storage NgebUTS akan mendapatkan kesempatan coaching clinic strategi start-up terkait energi baru terbarukan dari para ahli dan mendapat pendanaan terkait pembuatan cold storage ini. (arn)