Rektor Note

Menjadi Petani Itu Keren

Rector Notes No. 279

Namanya Lius, asal dari Sumba, NTT. Saat ini dia membantu kami untuk mengurusi lahan sawah yang dikelola oleh @universitasteknologisumbawa. Mulai semester ini, UTS mencoba mengelola lahan sawah Yayasan dengan luas kurang lebih 2 Ha. Saya sendiri yang terjun mengurusinya.

Ternyata, sulit juga menjadi petani, kalau kita tidak memiliki ilmunya. Saya memang lahir dari keluarga petani. Namun lahan pertanian yang keluarga kami kelola adalah lahan kering. Sehingga tanaman yang kami pelihara hanya terbatas pada jagung dan singkong saja. Pemeliharaannya lebih simpel. Belum pernah kami menanam padi. Jadi ini adalah pengalaman saya yang pertama.

Saya banyak browsing di youtube dan bertanya kepada para penyuluh pertanian. Di awal awal penanaman, tantangan demi tantangan datang. Soal tanah sawah yang tidak rata, soal debit air, soal persiapan penanaman, soal pupuk, soal penyemprotan pestisida dan lain lainnya. Sedikit demi sedikit saya belajar hal hal baru yang membuat saya menjadi kagum kepada para petani. Bagi mereka, itu sudah menjadi rutinitas sehari hari. Hingga menghasilkan beras yang dikonsumsi milyaran umat manusia.

Alhamdulillah, pagi ini saya lihat padi mulai tumbuh dengan subur. Meski masih banyak juga yang perlu ditingkatkan. Saya berterima kasih kepada Lius dan Pak Hamid yang terus membantu saya merawat padi yang kami tanam agar tumbuh menghasilkan bulir bulir padi yang sehat.

 

Kedepan, lahan pertanian yang kami kelola ini dapat menjadi tempat praktik mahasiswa dan dosen FTB atau Fateta yang akan mengaplikasikan ilmunya. Saya bermimpi, mungkinkah kita menghasilkan padi 10 ton/hektar. Saat ini, produktivitas petani di Sumbawa rata data hanya berkisar 5-7 ton/ha. Sementara di Tiongkok, mereka sudah berhasil menghasilkan 14-15 ton/ha.

Where there is a will, there is a way.

#utsmembumidanmendunia