Rector Notes

Tempe dari Segala Kacang

Rector Notes No. 275  

Mauro, mahasiswa kami asal negeri Maradona, pernah berkata ke saya. Di Argentina, tempe adalah makanan yang sangat mewah. Harganyapun mahal. Maka ketika tinggal di Sumbawa, ia senang bukan kepalang. 

Tempe bisa didapatkan dengan sangat mudah dan murah. Apalagi, ia adalah seorang vegetarian.

 Kita tahu bahwa tahu dan tempe terbuat dari kacang kedelai. Sayangnya, kita masih harus mengimpor kedelai dari negara lain karena ketersediaan kedelai di dalam negeri tidak mencukupi permintaan. Ini menyebabkan harga kedelai sering berfluktuasi. Akibatnya, para pengusaha merugi bahkan membuat gulung tikar.

Sebagai alternatif kedelai, ternyata tempe bisa dibuat dari jenis kacang kacangan yang lainnya. Adalah pak Chairul Anam Afgani, dosen Fateta UTS yang mencoba membuat tempe yang berasal dari empat jenis kacang-kacangan, yaitu Kacang Gude, Kacang Merah, Kacang Bogor, dan Kacang Tolo. Masing masing memiliki kandungan nutrisi yang berbeda. Ada yang dominan karbohidrat, lemak, protein dan vitamin.

Chairul yang lulusan S2 Universitas Brawijaya ini mengikuti kompetisi tingkat nasional yang diadakan oleh BPTP Kementerian Pertanian RI di Jawa Timur. Dikarenakan pandemi, perlombaan diadakan secara online melalui kiriman video. Dari ratusan peserta yang mendaftar, Chairul masuk dalam lima besar. Mereka diundang secara langsung untuk mempresentasikan di hadapan Dewan Juri di Surabaya. Hasilnya, Chairul didaulat mendapatkan Juara 1.

Di hari penganugerahan juara, Chairul juga terpilih sebagai Dekan Fateta periode 2021-2024, melanjutkan kepemimpinan Pak Haryandi yang pindah homebase ke Teknik Lingkungan. Saya meyakini dibawah kepemimpinannya Fateta @universitasteknologisumbawa akan terus maju dan jaya.

Selamat Pak Chairul dan @fateta.uts! Teman teman @omtuts ayo dihilirisasi hasil karya Pak Chairul dkk. Semoga bisa memberikan alternatif lain untuk pemenuhan kebutuhan pangan Indonesia.
#utsmembumidanmendunia