Rector Notes

Diplomasi Soft Power Indonesia

Rector Notes No. 269 

Selasa lalu saya menghadiri acara yang dilaksanakan oleh Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI di Kantor Gubernur NTB, Mataram. Hadir dalam pertemuan tersebut, Gubernur NTB, Wakil Ketua BKSAP Dr. Mardani Ali Sera, didampingi oleh tiga anggota DPR RI lainnya, Johan Budi, Muslim dan Hj. Sakinah Al Jufri, serta Rektor Unram dan Rektor Universitas 45 Mataram.


Selain tiga fungsi utama DPR yaitu legislasi, budgeting dan pengawasan, lembaga ini juga punya fungsi diplomasi. BKSAP bertugas mengembangkan dan meningkatkan hubungan persahabatan dan kerjasama antar negara.

Salah salah satu metode diplomasi soft power dapat dilakukan melalui pendidikan dan pertukaran budaya. Kami sharing pengalaman membuat program Global Ambassador Scholarship, yaitu memberikan beasiswa kepada mahasiswa asing untuk belajar di UTS. Hal ini dapat juga dimaknai sebagai salah satu cara diplomasi soft power karena mahasiswa mahasiswa tersebut akan menjadi “ambassador (duta)” dari negaranya masing masing.

Sejak September 2020, UTS menerima 21 mahasiswa asing dari 21 negara yang tersebar di hampir seluruh program studi. Salah satunya, Mauro, mahasiswa kami asa Argentina sangat aktif mempromosikan tentang adat, budaya, bahasa, dan keindahan alam Indonesia. Ia pernah menjadi pembicara di sebuah konferensi budaya di Argentina dan mempresentasikan tentang Indonesia. Baru-baru ini, ia menulis sebuah artikel yang terbit di majalah Kedubes Indonesia di Argentina mengenai Sumbawa. Sementara itu Shafie mahasiswa asal Iran yang pandai memainkan gendang/daf Persia sering tampil bersama tim Sakeco Cinde Bulaeng.

Selain mendatangkan mahasiswa asing untuk belajar di negara kita, soft power diplomacy juga bisa dilakukan melalui pengiriman mahasiswa kita ke mitra luar negeri. Juga oleh diaspora Indonesia di berbagai negara. Kita terus gaungkan bahwa Indonesia adalah negara yang cinta damai, kaya akan adat budaya, punya banyak potensi, dan hal-hal baik lainnya.

#utsmembumidanmendunia