Rector Notes

Olat Maras – Bukit Kebahagiaan

Rector Notes No. 265 

Elang Muda, siapa yang belum pernah naik bukit Olat Maras? Kalau belum, saya sarankan untuk coba naik. Kalau bisa jangan sendirian, tapi naiklah bersama teman teman biar lebih seru. Supaya tidak kepanasan, waktu yang tepat untuk naik adalah setelah subuh atau setelah ashar. Kalau pagi hari kita bisa melihat sunrise, sedang kalau sore kita bisa lihat sunset.

Saya sendiri sudah tiga kali mendaki Olat Maras. Pertama kali diajak oleh Mulyadi dkk sebelum pandemi merebak, yang kedua saat saya mengajak seluruh dosen dan staf UTS bergotong royong membuat jalur pendakian dan ketiga ketika menemani Pak Gubernur dan keluarga. Saat itu saya mengajak istri saya @diansilviaas , yang katanya hobi mendaki.

Dari puncak Olat Maras kita bisa melihat pemandangan di sekitar yang hijau. Seorang partner kami dari Belanda, Pak Bart, dalam sebuah diskusi mengatakan pada saya : the people living here should be very happy as they absorb positive energy from the greens. Agaknya, perkataan Pak Bart ini ada benarnya juga. Pohon pohon membuat produksi oksigen berlimpah.

Saat awal awal menjadi rektor saya bermimpi untuk membuat signage UTS di atas bukit ini. Alhamdulillah, mimpi itu sudah terealisasi. Meski dari kejauhan huruf hurufnya terlihat “mungil”, namun effort menaikkan signage setinggi 2,5 m ini cukup besar juga. Kedepan, kita berencana membuat tangga setapak agar memudahkan siapa saja yang ingin mendaki bukit ini.

Sesuai dengan namanya, bukit ini akan memberi kebahagiaan sendiri bagi mereka yang tinggal dan bekerja di sekelilingnya. Termasuk mereka yang pernah mendakinya. Tentu ini dimaknai bahwa bukan bukit yang memberi kebahagiaan secara langsung, namun Yang Menciptakan bukit itu pemberi kebahagiaan hakiki. Coba deh!

Video drone credit by @nadira_jase27

#utsmembumidanmendunia