Rector Notes

Harlah di Hardiknas

Rector Notes No. 251

Selesai shalat Subuh berjamaah di masjid tadi, sebuah telepon masuk dari nomor yang tak dikenal. Ternyata telepon dari Teh Dedeh, kakak saya yang tinggal di Lampung, menggunakan nomor lainnya. Diujung telepon, Mamah mengajak bicara. Suaranya agak parau, terdengar sedikit sedih namun bahagia. “Aa, hari ini hari pendidikan nasional, selamat ulang tahun ya A”.


Hardiknas selalu menjadi kenangan Mamah, karena tiga puluh tujuh tahun lalu beliau melahirkan saya. Saat masih kecil, kami lima bersaudara dididik oleh pendidikan keluarga yang keras dan disiplin. Terutama oleh almarhum Bapak. Berbeda dengan Mamah, yang selalu lemah lembut dalam mendidik putra putrinya.

Hasil didikannya memang terlihat jelas. Dari anak pertama (almarhum) hingga anak kelima semuanya berprestasi mulai tingkat SD hingga SMA. Seluruh anaknya telah menyelesaikan program sarjana, tiga diantaranya adalah lulusan UI. Padahal Mamah lulus Sekolah Rakyat (SR) saja tidak. Namun untuk urusan pendidikan beliau sangat perhatian.

Saya bersyukur bisa mengenyam pendidikan hingga program doktoral. Hampir seluruhnya dicover oleh beasiswa. Dari proses pendidikan ini saya berkesimpulan bahwa semakin kita mempelajari suatu ilmu, baik ilmu dunia maupun akhirat, kita akan menemukan dan merasakan bahwa ilmu yang kita miliki sangat sedikit dan terbatas. Jika diumpamakan, bagai setetes air pada samudera yang membentang luas.

Ilmu Allah Maha Luas, Maha Besar, Maha Agung. Allah mengatur dari yang besar seperti sistem tata surya hingga galaksi yang tunduk patuh bergerak pada porosnya masing masing, sampai pada hal-hal yang kasat mata ukuran nanometer hingga angstrom. Masih banyak yang belum kita pelajari, belum kita ungkap dan manfaatkan untuk kemaslahatan umat manusia.

Saat ini Mamah sedang sakit kanker. Beberapa waktu lalu saya menjenguk beliau. Saya ajak jalan jalan agar tidak bosan di rumah. Beliau tidak pernah mengeluh akan sakitnya. Bersyukur ada Teh Dedeh yang merawat beliau sehari harinya. Semangat untuk sembuh, Mamah! Uhibukki fillah!