Rector Notes

Mancing bareng Anak Anak

Rector Notes No. 244

Sewaktu kecil, saya tinggal tidak jauh dari sungai dan lebung. Mencari ikan telah menjadi pekerjaan sampingan warga, sebagai tambahan lauk pauk untuk makan sehari hari. Ada yang menggunakan pancing, jala, keramba, bubu dan lain lain.

Saya paling senang saat musim kemarau tiba, dimana air di lebung menjadi surut, sehingga menangkap ikan menjadi lebih mudah. Kami menyebutnya dengan ngubek. Warga saling memberitahu jika akan ngubek. Tua muda tumpah ruah menangkap ikan bersama sama.

Ikan gabus, sepat, nila, betok, baung dll adalah jenis ikan yang banyak ditemukan. Ada yang menggunakan kecrik (jala), hingga menggunakan ayakan (anyaman) yang terbuat dari bambu.

Hari ini saya mengajak anak anak memancing. Bukan di sungai, tapi di kolam ikan. Tadinya kolam ini mau dibuat kolam renang, namun apa daya jadi kolam ikan. Pak Judin, tim taman kami menanam bibit ikan nila, hingga akhirnya beranak pinak.

Memancing memang melatih kesabaran. Awalnya, anak anak terlihat tidak sabar saat menunggu umpan dimakan. Hingga akhirnya satu per satu anak anak menikmati proses saat ikan memakan umpan dan menariknya. Mereka terlihat senang dengan pengalaman pertamanya ini.

Buka puasa kali ini mereka makan ikan hasil tangkapannya sendiri. Saya seperti dejavu saat masa kecil dulu. Mencari rezeki perlu kesabaran dan ketekunan, barang kali itu pelajaran yang ingin saya tanamkan kepada anak anak.