Rector Notes

Internasionalisasi ala UTS

Rector Notes No. 237

Suatu ketika, selepas lulus sekolah doktoral dan mengabdi kembali ke kampus, saya berkhayal bagaimana jika banyak mahasiswa asing yang kuliah di kampus. Bukan ingin sok gagah-gagahan. Namun berdasarkan pengalaman, dengan hadirnya mahasiswa asing dapat menambah cakrawala berfikir para mahasiswa dan dosen, disamping memperluas jaringan pertemanan dan memperkaya wawasan bahasa dan budaya. Akhirnya kampusnya bisa lebih maju dan berkembang, baik kehidupan akademik dan non-akademiknya.

Saya mempelajari pola internasionalisasi di kampus kampus kita umumnya hampir sama. Misalnya program mobility melalui pertukaran pelajar/dosen (exchange student/lecturer mobility) dan magang (internship). Kemudian ada juga kelas internasional yang bekerjasama dengan institusi perguruan tinggi di luar negeri.

Untuk mobility program umumnya didominasi oleh pengiriman mahasiswa dan dosen kita ke universitas/lembaga riset mitra di luar negeri. Sementara sangat jarang sekali institusi mitra di luar negeri yang mengirimkan mahasiswa/dosennya ke institusi kita. Jadi rasanya sangat tidak seimbang. Seolah-olah institusi kita tidak sepadan atau tidak menarik sebagai tempat belajar. Padahal dosen dosen kita juga tidak bisa diremehkan soal kualitasnya. Banyak dari mereka yang berasal dari lulusan universitas bonafide di luar negeri. Begitu pula dengan program kelas internasional. Sebagian besar masih didominasi oleh orang Indonesia yang kemudian melanjutkan pendidikannya ke institusi mitra di luar negeri. Belum banyak mahasiswa asing yang belajar di tempat kita.

Apa permasalahannya? Menurut saya salah satunya adalah persoalan pemikiran (mindset) saja. Kita tengok biaya yang ditawarkan pada kelas internasional oleh kampus kampus kita. Biayanya bisa berkali-kali lipat dari kelas reguler. Sehingga mana ada calon mahasiswa asing yang tertarik masuk kuliah di kampus kita. Belum lagi minimnya bantuan beasiswa kepada mahasiswa asing. Mungkin calon mahasiswa asing berfikir, mending kuliah di negaranya saja, sudah kualitasnya lebih baik, murah pula, plus ada beasiswa yang mungkin didapatkan. Beasiswa yang diberikan oleh pemerintah kita melalui program darma siswa kuotanya juga masih terbatas.

Beasiswa yang diberikan oleh pemerintah kita melalui program darma siswa kuotanya juga masih terbatas.Di negera-negara maju, universitas memberikan kuota beasiswa khusus untuk mahasiswa asing. Selain itu, beasiswa juga dapat berasal dari project professor maupun perusahaan/industri. Ini yang membuat banyak mahasiswa asing kuliah di universitas universitas tersebut.
Pemikiran di banyak negara maju inilah yang kami terapkan di UTS. Tahun lalu kami melaunching program Global Ambassador Scholarship (GAS) program. Kami memberikan beasiswa penuh yang meliputi biaya hidup, biaya tiket pesawat, dan biaya kuliah. Biaya kuliah mahasiswa asing sama dengan mahasiswa reguler. Hasilnya, diluar ekspektasi kami. Lebih dari 2400 calon mahasiswa asing mendaftar dari 82 negara. Dari jumlah tersebut, kami menyeleksinya menjadi 21 orang dari 21 negara.
Jika perubahan mindset ini dilakukan pada perguruan perguruan tinggi di Indonesia, apalagi perguruan tinggi bonafide, saya meyakini akan banyak calon mahasiswa asing yang tertarik kuliah di Indonesia. Sedikit demi sedikit kepercayaan publik bahwa Indonesia dapat menjadi negara tujuan utama bagi para pencari beasiswa akan tumbuh.