Rector Notes

Jambu si Monyet

Jambu Mede si Jambu Monyet

Hari ini saya melakukan penanaman pohon buah Jambu Mete di lingkungan RPK @universitasteknologisumbawa. Orang sunda menyebutnya Jambu Mede atau Jambu Monyet. Buah ini mengingatkan saya ke masa kecil dulu. Di pinggir kebun tempat kami bercocok tanam, ada sebuah pohon Jambu Mede yang rindang. Buahnya sangat lebat. Namun disana ada semut rangrang yang ganas. Jadi untuk mengambil buahnya memerlukan perjuangan sendiri.

Buah yang telah masak biasanya jatuh sendirinya. Saya sering ambil bijinya lalu dibakar dengan menggunakan kayu. Kadang bersamaan saat Ibu memasak menggunakan tungku. Rasanya gurih, buat ketagihan.

Jambu Mete yang ditanam kali ini adalah jenis yang berbeda dari biasanya. Beberapa waktu lalu kami membelinya di tempat pembibitan di Desa Luk. Jika biasanya Jambu Mete berbuah mulai umur 5 tahun, menurut Pak Kades Jambu Mete yang kami tanam ini dapat berbuah dalam waktu 7-9 bulan karena menggunakan sistem penyambungan.

Bagian bawah berasal dari biji yang memiliki akar yang kuat, sementara bagian atas dari pohon yang memiliki buah lebat dan manis. Wallahu’alam. Kita tunggu 9 bulan kedepan.

Selain buahnya, pucuk daun Jambu Mete juga bisa dibuat lalapan. Rasanya agak pahit/kecut. Namun jika dimakan dengan dicampur daun pepaya maka daun pepaya yang rasanya pahit menjadi tidak pahit. Demikian juga daun Jambu Mete tidak terasa kecutnya. Makannya dengan sambal terasi dan ikan asin di tengah kebun bersama keluarga. Sederhana namun sangat nikmat.

#utsmembumidanmendunia