Rector Notes

Bermanfaat bagi Semesta Alam

Rector Notes No. 55

Selesai shalat subuh di masjid tadi, saya berpapasan dengan segerombolan anjing. Anjing anjing tersebut hidup di sekitaran asrama UTS. Mereka tidak dipelihara dengan sengaja oleh kami. Mereka datang sendiri. Menurut cerita, anjing tersebut berasal dari masyarakat setempat. Dimaksudkan untuk 

menjaga kebun padi dan jagung. Maklum disekitaran kampus memang masih banyak terdapat hutan. Sehingga binatang seperti babi dan monyet seringkali merusak tanaman warga.

Karena banyak sisa makanan dari para penghuni asrama, maka anjing tersebut serasa memiliki rumah tempatnya menetap.

Anjing, monyet, babi adalah makhluk Allah. Mereka telah dijamin rezekinya oleh Sang Pencipta. Namun sebagai umat Muslim, kita paham bahwa air liur anjing termasuk dalam kategori najis berat. Untuk mensucikannya perlu dibasuh 7 kali oleh air dan salah satunya dibilas oleh tanah.

Saya baru baru ini “dekat” dengan seekor anjing. Pasalnya saya beberapa hari ini memberinya makanan. Saya berinama si Kiplik. Dari Masjid, dia mengikuti saya sampai asrama. Lalu saya beri makan sisa sahur tadi.

Kita pernah mendengar sebuah kisah pada zaman kenabian, bahwa ada seorang pelacur bisa masuk surga, hanya karena memberi minum anjing yang kehausan.

Di Bukit Olat Maras dimana UTS berdiri banyak kawanan monyet yang tinggal. Pak Wawan, salah seorang staff UTS menceritakan bahwa pada saat musim kemarau yang panjang (saya belum mengalaminya), mereka turun dari bukit terutama untuk mencari makan dan minum. Monyet sering membuka keran air di kampus, namun tidak bisa menutupnya kembali. Ya iyalah, namanya juga monyet hehe. Lalu saya berniat untuk membuatkan bak penampungan air disekitar kaki bukit. Kita isi air supaya binatang yang hidup disekitar kita mendapatkan pasokan air untuk hidup saat musim kemarau mendatang.

UTS dalam visinya mencantumkan kalimat “…bermanfaat bagi semesta alam”. Binatang adalah juga makhluk Allah yang hidup di semesta-NYA. Sama seperti kita manusia. Kita perlu menyayangi mereka tentu dengan batas batas syariat.

#utsmembumidanmendunia